Khusus pada April 2026, kenaikan impor terutama dipicu oleh lonjakan impor migas yang mencapai US$893,20 juta atau sekitar Rp14,55 triliun, meningkat 77,38 persen dibandingkan April tahun lalu.
Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas, kelompok mesin dan pesawat mekanik (HS 84) mencatatkan kenaikan tertinggi. Nilai impornya bertambah US$1,25 miliar atau sekitar Rp20,3 triliun, meningkat 103,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, kelompok perhiasan dan permata (HS 71) mengalami penurunan terbesar dengan nilai mencapai US$420,24 juta atau sekitar Rp6,85 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan negara asal barang, Tiongkok masih menjadi pemasok terbesar impor nonmigas ke Banten dengan nilai mencapai US$2,92 miliar atau sekitar Rp47,6 triliun. Selanjutnya Australia sebesar US$1,99 miliar atau sekitar Rp32,4 triliun, serta Singapura sebesar US$1,36 miliar atau sekitar Rp22,1 triliun.
Menurut penggunaannya, impor bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan nilai mencapai US$9,58 miliar atau sekitar Rp156,2 triliun. Sementara impor barang modal mencapai US$4,28 miliar atau sekitar Rp69,8 triliun, dan impor barang konsumsi sebesar US$1,07 miliar atau sekitar Rp17,4 triliun.
Besarnya porsi impor bahan baku dan barang modal menunjukkan aktivitas manufaktur dan investasi di Banten masih berjalan cukup kuat. Namun, kondisi tersebut sekaligus mencerminkan tingginya ketergantungan industri daerah terhadap pasokan dari luar negeri.
Ke depan, peningkatan daya saing industri lokal serta penguatan rantai pasok dalam negeri menjadi tantangan penting agar pertumbuhan ekspor dapat berlangsung lebih cepat dan mampu memperkecil defisit perdagangan yang masih membayangi perekonomian Banten.
Sumber Berita : BPS Banten
