Sementara itu, kemampuan berbahasa Indonesia penduduk usia lima tahun ke atas mencapai 99,19 persen, mencerminkan tingkat integrasi sosial dan komunikasi yang sangat tinggi di tengah keberagaman masyarakat Banten.
Di sisi lain, prevalensi disabilitas tercatat sebesar 1,73 persen, sedangkan angka migrasi risen mencapai 1,19 per 100 penduduk.
Data ini menunjukkan mobilitas penduduk antarwilayah masih berlangsung dan menjadi salah satu faktor yang membentuk dinamika sosial serta ekonomi daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi pemerintah daerah, hasil SUPAS 2025 bukan sekadar kumpulan angka statistik. Data tersebut menjadi peta jalan untuk membaca arah perubahan penduduk Banten dalam satu dekade ke depan. Bonus demografi yang masih berlangsung membuka peluang percepatan pembangunan.
Namun, meningkatnya jumlah penduduk lansia dan perubahan struktur keluarga menuntut kebijakan yang lebih adaptif agar pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan struktur usia yang terus berubah, tantangan terbesar Banten ke depan bukan lagi sekadar mengelola pertumbuhan penduduk, melainkan memastikan setiap kelompok usia memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan perlindungan sosial.








