Harapan sebenarnya sempat tumbuh tahun lalu. Misnadi mengaku telah mengurus berbagai persyaratan untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni. Berkas-berkas dikumpulkan, data diverifikasi, dan ia sempat diberi kabar bahwa prosesnya hampir selesai.
“Tahun kemarin semua data sudah lengkap. Katanya sudah siap, waktu mau puasa itu. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujarnya.
Kalimat itu diucapkan tanpa amarah, lebih terdengar seperti lelah yang terlalu sering ditahan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, memperbaiki rumah secara mandiri hampir mustahil bagi Misnadi. Untuk sekadar menutup kebutuhan harian saja sudah menjadi perjuangan tersendiri.
Di usia 45 tahun, ia tak meminta rumah mewah. Ia hanya ingin tempat berteduh yang tidak bocor, lantai yang tidak tergenang, dan ruang kecil yang bisa benar-benar disebut tempat istirahat.
“Ya saya mohon, rumah saya dibantu supaya layak dihuni. Biar ada tempat istirahat yang benar,” ucapnya penuh harap.
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : totalbanten.com






