“Rusak semua. Belum pernah saya perbaiki. Mau perbaiki juga bingung pakai apa,” kata Misnadi.
Tak ada ruang yang benar-benar kering saat musim hujan datang. Air merembes dari atap, mengalir dari celah dinding, lalu menggenang di lantai. Rumahnya berubah seperti kolam dangkal yang dingin dan lembap.
Setiap kali awan gelap menggantung lama di langit Pamarayan, Misnadi sudah bersiap. Bukan bersiap menyeduh kopi atau menikmati udara sejuk, melainkan bersiap meninggalkan rumahnya sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau hujan deras, rumah saya sepetak ini saja yang sering kebanjiran. Semua limpas. Apalagi kemarin musim banjir, sudah enggak bisa ditahan,” tuturnya.
Air yang masuk bukan sekadar membuat lantai basah, tapi menenggelamkan hampir seluruh bagian rumah. Dalam kondisi seperti itu, Misnadi tak punya pilihan selain mengungsi.
“Iya, airnya masuk semua. Saya biasanya numpang ke rumah teman. Kadang di bengkel, kadang ke mana saja yang penting bisa tidur,” katanya.
Rumah yang seharusnya jadi tempat beristirahat justru menjadi tempat yang paling ingin ia hindari saat hujan turun.
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : totalbanten.com
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya