Ia menerapkan filosofi ‘Tangan Besi dalam Sarung Tangan Beludru’. Lembut dalam pendekatan sosial, namun tetap keras dan presisi dalam penegakan hukum.
Baginya, ketegasan tidak harus ditunjukkan dengan wajah sangar, melainkan dengan hasil kerja yang nyata.
Menjadi Ikon Baru Kepolisian Modern
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena AKBP Condro Sasongko memberikan wajah baru bagi Polri di era digital. Ia menunjukkan bahwa otoritas tidak akan luntur hanya karena seorang pemimpin berani menanggalkan topeng formalitasnya demi menyatu dengan rakyat.
Saat ini, warga Serang tidak lagi melihat kantor polisi sebagai tempat yang menyeramkan. Sebaliknya, mereka melihat figur Condro sebagai simbol bahwa polisi adalah kawan lama yang siap membantu kapan saja.
Di akhir hari, saat seragamnya dilepas, Condro tetaplah seorang abdi negara yang paham betul bahwa jabatan hanyalah titipan, namun jejak kebaikan dan kedekatan dengan rakyat akan terus dikenang lama setelah masa tugasnya usai.
Lepas Tugas dari Serang, Diselimuti Haru
Lapangan Mapolres Serang biasanya menjadi saksi bisu apel pagi yang kaku dan formal. Namun, Jumat (9/1/2026) siang itu, pemandangan berubah drastis.
Sebuah mobil komando unjuk rasa terparkir di tengah lapangan, namun bukan amarah yang menggema dari pengeras suaranya, melainkan untaian doa dan rasa haru.
Hari itu, AKBP Condro Sasongko resmi menanggalkan jabatannya sebagai Kapolres Serang untuk diserahkan kepada AKBP Andri Kurniawan. Namun, yang terjadi bukan sekadar seremonial ‘lepas sambut’ biasa.
Ribuan orang mulai dari buruh dengan seragam pabriknya, tokoh agama dengan jubah putih, hingga emak-emak yang membawa poster karton bertuliskan tangan tumpah ruah memadati lapangan.
Di sudut lapangan, sekelompok ibu-ibu tampak kompak mengangkat tinggi-tinggi poster bertuliskan curahan hati.
“Pak Condro, jangan lupakan kami di Serang,” tulis salah satu poster tersebut.
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : Totalbanten.com
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya