“Rumah ini sudah empat tahun begini. Sudah pernah ajukan bantuan ke RT, tapi tidak ada tindak lanjut,” kata Herman kepada wartawan, Jumat (24/10/2025).
Ia tidak menuntut kemewahan, hanya atap yang kokoh, sekadar martabat untuk keluarganya. Kisah Herman bukan kasus tunggal.
Ia adalah cerminan dari sistem yang macet, di mana program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) hanya menjadi deretan angka di laporan tahunan, bukan perbaikan nyata di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bukan cuma saya, banyak warga lain juga butuh bantuan,” tambah Herman.
Permintaan itu adalah seruan kolektif dari masyarakat yang merasa ditinggalkan. Di depan rumahnya, ada Nariah yang juga lelah diselimuti harapan palsu.
Ia berkisah, petugas desa sudah tiga kali datang untuk ‘survei’. Sebuah ritual birokrasi yang berulang tanpa pernah diikuti dengan aksi.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






