Tantangan berikutnya adalah soal keberlanjutan ekonomi media. Pendapatan iklan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung industri pers perlahan berpindah ke platform digital global.
Perusahaan teknologi memperoleh sebagian besar keuntungan dari lalu lintas informasi, sementara media yang memproduksi konten justru harus berjuang mempertahankan ruang redaksi dan kualitas pemberitaan.
Media lokal merasakan dampak yang lebih berat. Banyak media daerah harus bertahan dengan sumber daya terbatas di tengah tuntutan untuk memproduksi berita secara cepat dan terus-menerus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, justru media lokal yang memiliki kedekatan paling kuat dengan persoalan masyarakat. Mereka yang merekam kondisi jalan rusak, pelayanan publik yang buruk, persoalan pendidikan, kesehatan, hingga penggunaan anggaran daerah yang sering luput dari perhatian media nasional.
Di tengah tekanan tersebut, muncul tantangan baru bernama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini mampu menulis artikel, membuat gambar, bahkan menghasilkan video yang tampak nyata.
Kehadirannya membuka peluang sekaligus ancaman. Peluang karena dapat membantu proses kerja jurnalistik menjadi lebih efisien. Ancaman karena teknologi yang sama dapat digunakan untuk memproduksi disinformasi dalam skala yang jauh lebih besar.
Namun sesungguhnya, krisis terbesar jurnalisme hari ini bukanlah teknologi, melainkan kepercayaan. Ketika publik mulai meragukan media, mempertanyakan independensi wartawan, atau menganggap semua informasi memiliki nilai yang sama, maka fungsi pers sebagai pilar demokrasi menjadi melemah.
Penulis : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya