“Orang tahunya tempe tinggal beli. Padahal prosesnya panjang,” ujar Mursidin.
Di tengah tekanan itu, ia mengaku masih memiliki sedikit ruang bernapas. Belakangan, produksi tempenya meningkat setelah ikut menyuplai kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).
Jika sebelumnya hanya memproduksi sekitar 50 kilogram kedelai per hari, kini jumlahnya mendekati 100 kilogram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Alhamdulillah sekarang ada tambahan suplai ke dapur MBG,” katanya.
Meski demikian, keresahan belum benar-benar hilang. Bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya, kenaikan dollar bukan persoalan abstrak yang jauh dari kehidupan desa. Dampaknya hadir langsung di meja produksi dan dapur rumah tangga mereka.
Rakyat desa memang tidak berbelanja menggunakan dollar. Namun, ketika rupiah melemah, masyarakat kecil tetap menjadi pihak pertama yang dipaksa menyesuaikan diri.
Ukuran tempe diperkecil, keuntungan ditekan, dan pengeluaran dikurangi agar usaha tetap berjalan.
Menjelang siang, Mursidin kembali menyusun tempe-tempe yang siap dijual ke pasar. Asap rebusan kedelai masih mengepul dari dapurnya. Di tengah nilai tukar yang terus bergerak naik, ia hanya menyimpan harapan sederhana.
“Semoga dollar bisa stabil lagi supaya orang kecil masih bisa terus berkarya,” katanya.
Editor : Engkos Kosasih
