Setiap kali rupiah melemah, biaya produksi meningkat. Sementara itu, daya beli masyarakat di kampung justru semakin terbatas.
“Harga tempe enggak bisa sembarangan dinaikkan. Orang kampung sensitif kalau beda seribu-dua ribu rupiah,” ujarnya.
Kedelai impor menjadi beban utama. Namun, yang paling mengejutkan baginya justru kenaikan harga plastik pembungkus.
“Dulu plastik satu kilo sekitar Rp30 ribu. Sekarang bisa sampai Rp50 ribuan,” katanya.
Dalam situasi seperti itu, menaikkan harga dianggap sebagai pilihan paling berisiko. Mursidin akhirnya memilih cara lain: memperkecil ukuran tempe.
“Kita enggak berani naikin harga. Jadi ukurannya yang dikurangin,” katanya sambil tersenyum kecil.
Keputusan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah pelanggan mulai mengeluhkan ukuran tempe yang semakin kecil. Namun, bagi Mursidin, itu menjadi satu-satunya jalan agar usaha tetap bertahan.
Di desa, tekanan ekonomi memang jarang hadir dalam bentuk grafik kurs di layar televisi. Ia datang perlahan melalui kenaikan harga bahan baku, plastik kemasan, hingga keuntungan yang semakin menipis.
Padahal, di balik sepotong tempe murah, terdapat proses panjang yang melelahkan. Kedelai harus direbus berjam-jam, dicuci, diberi ragi, dibungkus satu per satu, lalu didiamkan hingga fermentasi berhasil. Hampir seluruh proses masih dikerjakan secara manual.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
