Namun anak-anak itu tetap berangkat sekolah. Mereka tetap berjalan dalam dingin dan lumpur karena hanya punya satu keyakinan sederhana, pendidikan mungkin bisa mengubah hidup mereka yang susah. Harapan itu menjadi satu-satunya yang mereka pegang.
Di Desa Cikedung, jarak terasa sangat panjang. Untuk pergi ke kota, warga harus menempuh perjalanan satu hingga dua jam. Ketika ada warga sakit, keadaan sering kali menjadi genting.
Bidan tidak selalu ada di tempat, sementara puskesmas berada cukup jauh dari permukiman warga. Banyak orang akhirnya memilih bertahan sakit di rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, semua itu terjadi di Kabupaten Serang wilayah yang dikenal memiliki ribuan industri dan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Banten. Tetapi kemajuan itu seperti berhenti di batas desa. Warga Cikedung hanya bisa melihat pembangunan dari jauh tanpa benar-benar ikut merasakannya.
Hampir lima tahun kepemimpinan Kepala Desa Herman berjalan, tetapi sebagian warga merasa perubahan besar belum benar-benar hadir di kampung mereka. Obrolan tentang nepotisme dan bantuan sosial yang dianggap tidak tepat sasaran sering terdengar di teras-teras rumah warga.
Mereka berbicara pelan. Nyaris berbisik. Ada warga miskin yang merasa justru tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun. Sementara sebagian lain yang dianggap lebih mampu malah menerima bantuan sembako.
Di desa itu, kesedihan sering hadir tanpa suara. Seorang ibu paruh baya pernah berdiri lama di depan rumah sederhananya. Ia memandang tetangganya membawa bantuan sembako. Matanya berkaca-kaca. Perlahan air matanya jatuh.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
