“Apa yang dimulai, harus diselesaikan. Ingat satu hal, lelaki hidup oleh harga diri.”
Membangun media pada zaman hari ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan pertaruhan antara idealisme, ketahanan, dan keberanian untuk tetap waras di tengah dunia yang semakin bising.
Di era ketika teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia memahami informasi, media tidak lagi hanya berhadapan dengan tantangan bisnis, tetapi juga menghadapi runtuhnya kepercayaan publik terhadap kebenaran itu sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari ini semua orang bisa menjadi penyampai informasi. Media sosial menghapus batas antara wartawan, buzzer, propaganda, opini, dan fakta.
Informasi beredar tanpa proses verifikasi. Potongan video lebih dipercaya daripada penjelasan utuh. Emosi lebih mudah menguasai publik dibanding akal sehat.
Dalam keadaan seperti itu, kualitas berpikir masyarakat perlahan mengalami kemunduran. Ruang publik dipenuhi kebisingan, sementara kebenaran sering kali tenggelam di antara kepentingan dan sensasi.
Di tengah situasi itu, banyak media kehilangan arah. Tak sedikit media tumbuh cepat lalu mati perlahan. Bahkan media-media besar nasional mulai melakukan efisiensi karyawan demi bertahan menghadapi perubahan zaman yang begitu brutal.
Industri media sedang berada dalam masa sulit. Kecepatan lebih dihargai daripada ketepatan. Viralitas lebih menguntungkan dibanding integritas.
Namun justru di tengah keadaan seperti itulah saya mendirikan media dengan keyakinan yang mungkin terdengar terlalu naif bagi seorang pemula, menjadi “penjaga akal sehat publik.”
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya
