Pelaksana tugas Kepala Dinas Pertanian Banten, M Nasir, mengatakan proses seleksi tidak mudah. Dari 48 calon peserta, hanya 21 yang lolos setelah mengikuti pelatihan intensif selama 50 hari.
“Mereka sudah dibekali agar cepat beradaptasi dengan lingkungan dan budaya kerja di Jepang. Rencananya diberangkatkan 13 April,” kata Nasir.
Jepang dipilih bukan tanpa alasan. Negara itu dikenal sebagai barometer pertanian modern dengan teknologi, efisiensi, dan produktivitas tinggi meski lahan terbatas. Pemerintah daerah berharap transfer pengetahuan dari sana bisa menjawab stagnasi produktivitas di daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu peserta, Eva Luthfiah, melihat program ini sebagai jalan untuk mengubah wajah pertanian di kampung halamannya. Lahir dari keluarga petani dan menempuh pendidikan di bidang yang sama, ia mengaku ingin membuktikan bahwa pertanian bukan profesi kelas dua.
“Dari kecil saya sudah bertani. Sekarang saya ingin memajukannya,” ujarnya.
Editor : Engkos Kosasih
Sumber Berita : totalbanten.com







