Ia duduk di atas takhta, namun setiap geraknya diawasi oleh moncong meriam dari Benteng Speelwijk yang dibangun Belanda tepat di samping istananya.
Ironinya, Banten diwajibkan membayar biaya perang sebesar 600.000 ringgit, sebuah angka yang membuat kas kesultanan bangkrut dan memaksa rakyat memikul beban pajak lada yang mencekik.
“Tanpa intervensi militer Belanda yang masif, Sultan Haji hampir dapat dipastikan akan kalah,” tulis Guillot dalam buku berjudul Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nasib ini menegaskan analisis M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia since c. 1200 bahwa kemenangan Haji justru menjadikan Banten sebagai ‘negara vasal’ yang tak lagi memiliki ruang napas diplomatik di luar keinginan Batavia.
Di sisi lain, perlawanan terhadap Belanda tidak benar-benar padam. Syekh Yusuf al-Makassari, penasihat spiritual Sultan Ageng, memilih jalur gerilya hingga akhirnya tertangkap pada 1683.
Khawatir akan pengaruh karismatiknya, Belanda membuang Yusuf ke Sri Lanka, lalu ke Cape Town, Afrika Selatan, pada 1693. Meski dibuang ke ujung dunia, Syekh Yusuf justru menjadi bapak komunitas Muslim di sana.
Runtuhnya kedaulatan di tingkat elite pada abad ke-17 menyisakan luka sosiologis yang bernanah di tingkat akar rumput.
Editor : Imam Maulana
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






