Dinkes juga melakukan penjaringan balita yang mengalami masalah gizi, memberikan edukasi kepada keluarga, menyediakan pengobatan sesuai kondisi pasien, serta menyalurkan bantuan makanan khusus bagi sasaran yang membutuhkan.
“Kami terus berupaya menjaring anak-anak yang statusnya seperti itu, kemudian memberikan edukasi dan pengobatan bagi yang terpapar penyakit, memberikan bantuan berupa makanan khusus, serta bekerja sama lintas sektor untuk mendukung hal tersebut,” ungkapnya.
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Serang, prevalensi stunting yang mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) masih menggunakan angka tahun 2024 sebesar 20,2 persen. Hal itu karena survei SSGI untuk tahun 2026 belum dilaksanakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, berdasarkan data dalam aplikasi SIGIZI KESGA tahun 2026, tercatat sebanyak 2.679 balita mengalami stunting dari total sasaran 111.567 balita, atau sekitar 2,4 persen.
Efrizal menjelaskan, pendataan melalui SIGIZI KESGA dilakukan secara digital dengan memasukkan data antropometri atau ukuran fisik balita. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan status gizi anak berdasarkan standar deviasi atau Z-score.
“Pengukuran stunting melalui aplikasi SIGIZI KESGA dilakukan secara digital melalui pencatatan data antropometri balita yang otomatis menghitung status gizi anak berdasarkan standar deviasi (Z-score) setelah petugas menginput data fisik anak,” jelasnya.
Ia menyebutkan, target penurunan prevalensi stunting Kabupaten Serang pada 2026 ditetapkan sebesar 17,5 persen melalui pengukuran Survei Status Gizi Indonesia.
Di sisi lain, persoalan gizi buruk dan gizi kurang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Dinkes Kabupaten Serang mencatat sebanyak 294 balita mengalami gizi buruk sepanjang Januari hingga September 2026.
Jumlah tersebut setara sekitar 0,3 persen dari total sasaran 111.567 balita. Efrizal menyatakan seluruh balita yang tercatat mengalami gizi buruk telah mendapatkan intervensi.
“Jumlah total kasus gizi buruk dari Januari sampai dengan September 2026 sebanyak 294 balita dari sasaran 111.567 balita dan semuanya sudah mendapat intervensi,” ungkapnya.
Editor : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya