TOTALBANTEN.COM, SERANG – Warga pesisir Selat Sunda, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, dibuat geger oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Suara dentuman keras, gemuruh, getaran hingga semburan lava pijar membuat sebagian warga panik dan memilih mengungsikan kelompok rentan ke wilayah yang lebih tinggi.
Sejumlah lansia dan bayi mulai diungsikan sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari ke rumah sanak saudara di kawasan yang lebih tinggi, tepatnya menuju Kampung Cipanas atau wilayah atas Kampung Cilanas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya itu, aktivitas belajar mengajar di SD Pasauran 1 dan SD Pasauran 2 juga diliburkan. Kebijakan tersebut diambil warga dan pihak sekolah sebagai langkah antisipasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Salah seorang warga Kampung Pasauran, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Ahmad Zidhan Ramadhan (23), mengatakan suara dentuman disertai getaran mulai dirasakan warga sejak Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 04.00 WIB.
“Erupsinya mah dari BMKG itu kemarin subuh waktu tanggal 4 sekitar jam 4 hari Jumat,” kata Zidhan saat di konfirmasi malalui Telepon, Sabtu (5/9/2026).
Menurut zidhan, kondisi semakin terasa ketika dentuman keras terdengar sekitar pukul 23.30 WIB. Warga bahkan dapat melihat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari kawasan pesisir.
“Parahnya itu di jam 11.30 itu kerasa dentuman, kerasa ada suara dentuman terus kayak lava itu kelihatan jelas,” ujarnya.
Ia juga mngatakan, Kondisi tersebut membuat sejumlah warga mendatangi Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau yang berada di Kampung Pasauran.
Mereka datang untuk memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau sekaligus memantau aktivitas vulkanik melalui kamera CCTV.
“Dari situ kita sebagian warga itu mendatangi pos BMKG yang ada di Kampung Pasauran itu. Kita menanyakan terus memantau CCTV langsung di situ. Kata BMKG juga di situ ini Anak Gunung Krakatau itu lagi erupsi terus udah siaga 3 katanya level 3 siaga,” tuturnya.
Zidhan mengatakan sebagian warga mulai mengungsi, terutama lansia dan anak-anak. Mereka diarahkan menuju kawasan yang lebih tinggi di Kampung Cipanas.
“Sebagian warga itu sebagian ada yang udah mulai ngungsi itu lansia dan anak-anak, diungsikan ke kampung atas, Kampung Cipanas. Ada yang pada keluar rumah juga ikut mantau,” katanya.
Kepanikan juga dirasakan warga lainnya. Sebagian memilih keluar rumah, sementara sebagian lainnya bahkan mendatangi kawasan pantai untuk melihat langsung kondisi Gunung Anak Krakatau.
“Panik. Justru itu panik, ada yang ngungsi dan juga ada yang keluar ke pantai ikut mantau langsung gitu keadaannya dan semalam sempat bau belerang juga,” ujar zidhan
Kondisi tersebut kembali terjadi pada Sabtu pagi. Sekitar pukul 07.30 WIB, dentuman kembali terdengar dan getaran dirasakan warga.
“Nah, tadi pagi juga sekolah diliburkan di SD Pasauran 1 dan juga SD Pasauran 2 diliburkan, takutnya ada hal yang tidak diinginkan,” katanya.
“Nah, tadi sekitar jam 07.30-an tuh setengah 8 pagi. Itu mulai lagi. Itu malah lebih parah kayaknya dari semalam. Ada, iya, dentuman terus kaca, pintu itu pada getar,” sambung zidhan
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terjadi pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga Sabtu pukul 04.40 WIB.
Erupsi tersebut disertai suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau di Pasauran, Banten. Aktivitas vulkanik juga ditandai semburan lava pijar yang terlihat menyerupai air mancur atau lava fountain.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan aktivitas erupsi masih berlangsung hingga Sabtu pagi.
“Iya masih,” kata Suwarno.
Namun, aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak dapat terlihat dari pos pemantauan lantaran kawasan gunung tertutup kabut.
Di tengah aktivitas erupsi tersebut, laporan mengenai suara dentuman dan getaran dari sejumlah wilayah pesisir Banten turut bermunculan. Fenomena itu menjadi perhatian lantaran waktunya berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
PVMBG mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Badan Geologi meminta masyarakat, khususnya warga di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Masyarakat diminta mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal informasi resmi Badan Geologi dan PVMBG.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga kini terus dipantau petugas untuk mengantisipasi perubahan aktivitas vulkanik serta memastikan informasi peringatan dini dapat segera disampaikan kepada masyarakat.
Editor : Engkos Kosasih







