Dunia jurnalisme sedang berada di salah satu titik perubahan terbesar dalam sejarahnya. Jika dahulu media menjadi satu-satunya gerbang informasi, hari ini setiap orang dapat menjadi penyebar berita hanya dengan satu sentuhan jari melalui telepon genggam. Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memverifikasi kebenarannya.
Perubahan tersebut melahirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, masyarakat memiliki akses informasi yang belum pernah sebesar ini. Di sisi lain, publik justru semakin sulit membedakan mana fakta, mana opini, dan mana propaganda yang dikemas menyerupai berita.
Era digital telah mengubah cara orang mengonsumsi informasi. Jika dulu masyarakat membaca koran setiap pagi atau menunggu siaran berita pada jam tertentu, kini informasi hadir tanpa henti selama 24 jam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Algoritma media sosial menjadi “redaktur baru” yang menentukan berita apa yang muncul di hadapan publik. Sayangnya, algoritma tidak bekerja berdasarkan kepentingan publik, melainkan berdasarkan tingkat keterlibatan pengguna.
Semakin kontroversial sebuah isu, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan perhatian. Akibatnya, banyak media terjebak dalam perlombaan mengejar klik.
Judul sensasional, konflik yang dibesar-besarkan, hingga informasi yang belum terverifikasi sering kali lebih menarik perhatian dibandingkan laporan mendalam yang membutuhkan riset dan investigasi panjang.
Dalam situasi seperti ini, jurnalisme menghadapi ancaman serius: kehilangan fungsi utamanya sebagai penjaga kepentingan publik.
Penulis : Engkos Kosasih
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya








