“Setiap agama menekankan kebersihan hati dan kasih sayang. Jadi jangan ada lagi yang merasa paling benar sendiri,” katanya.
Waspada Fitnah Media Sosial
Dalam kesempatan itu, KH Matin juga menyinggung maraknya fitnah di media sosial. Ia menyebut istilah “WWW” untuk menggambarkan dunia maya yang rawan berita palsu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Berita dari media sosial itu 50:50, bisa benar bisa salah. Maka rumusnya tabayyun. Cek dulu, jangan langsung percaya. Bahkan profesor bisa tertipu,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa fitnah dapat memicu kerusuhan dan perpecahan.
“Presiden yang terpilih wajib kita dukung. Haram menjatuhkan pemimpin sah dengan cara salah. Itulah ajaran Rasulullah,” ujarnya.
Santri dan Indonesia Emas
Sebagai pengurus A’wan PBNU 2022-2027, KH Matin menekankan pentingnya peran santri dalam mencetak generasi berakhlak mulia. Ia mengingatkan para santri agar bersyukur bisa menimba ilmu di pesantren.
“Santri itu bukan hanya belajar ilmu pengetahuan, tapi juga akhlak dan ibadah. Dari sinilah lahir generasi tangguh yang siap membangun bangsa,” ucapnya.
Ia menegaskan, santri dan generasi muda adalah pilar penting menuju Indonesia Emas 2045.
“Belajarlah sungguh-sungguh, sebarkan kebaikan, dan jadilah bagian dari masa depan bangsa,” pesannya.
Acara peringatan Maulid Nabi di Ponpes Al-Fathaniyah ditutup dengan doa bersama. Tokoh lintas agama yang hadir ikut memberikan penghormatan. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi persatuan. Dari Ponpes Al-Fathaniyah, pesan kuat kembali digaungkan meneladani akhlak Rasul, melawan fitnah, menjaga kerukunan, dan memperkuat persatuan bangsa. (Dayat).***